Rabu, 30 Oktober 2013



Testimoni UTS lewat Email

UTS lewat email dapat saya jalankan dengan berbagai rintangan, kesalahan dan kecemasan. Rintangannya berupa banyaknya tugas lain di saat bersamaan. Kali ini jaringan internet bukan menjadi rintangan yang menyulitkan saya dalam mengikuti Ujian Tengah Semester lewat email. Kesalahan yang saya lakukan berupa ketidaktelitian dalam membaca dan memahami instruksi ujian serta soal ujian. Saya juga kurang bertanya kepada teman lain untuk memastikan cara yang sebenarnya. Akibatnya saya terlambat dalam mengirim dan soal berikutnya juga menjadi lama saya terima. Hal ini mengajarkan saya untuk teliti dalam memahami setiap instruksi dalam mengerjakan sebuah tugas. Sementara kecemasan yang saya alami adalah kecemasan karena waktu yang semakin sempit, hampir mencapai deadline. Karena keterlambatan saya sehingga soal kedua dan ketiga belumsaya dapatkan, waktu pada saat itu sudah hampir habis. Saya sangat cemas akan mendapatkan nilai UTS yang buruk. Namun kecemasan saya dapat dilegakan kembali karena perpanjangan waktu. Saat diumumkan waktu diperpanjang saya sangat senang dan berpikir untuk melakukan yang selanjutnya dengan cepat dan tepat. Saya menunggu apakah akan direspon agar langsung saya jawab, ternyata tidak. Pagi-pagi saya bangun jam 5 untuk memeriksa apakah sudah dapat balasan, ternyata belum juga. Saya memutuskan untuk tidur lagi, ternyata saya terlalu nyenyak dan bangun pukul 06.37. Saya melihat kotak masuk sudah bertambah, saya pikir itu pertanyaan kedua, ternyata itu adalah permintaan untuk mengkonfirmasi dan batasnya sampai pukul 06.30. Saya kembali panik dan tidak langsung membalas tapi bertanya lagi kepada teman lain apa yang harus dilakukan hal ini sesuai dengan teori metakognisi bagian mendefinisikan tugas halaman 277 dengan membaca instruksi dengan jelas dan bertanya pada teman lain Akhirya saya balas pukul 07.00 kurang. Saya sudah takut dan cemas jika tidak dibalas. Ternyata Ibu Dina langsung membalas. Saya senang sekali. Langsung saya jawab pertanyaan kedua dan ketiga. seseuai dengan teori metakognisi dalam tahap perencanaan halaman 277. Saya memersiapkan diri dengan membaca buku terlebih dahulu sebelum soal diberikan. Untung saja teori ini sudah saya baca sehingga saya bisa menjawabnya. Semua kecemasan dan ketakutan sudah menjadi kelegaan. UTS ini mengajarkan, mengingatkan dan menegur saya agar teliti dan berusaha mengerjakan setiap proses belajar dengan usaha yang masksimal. Secara khusus juga mengingatkan setiap pilihan mempunyai konsekuensi. Sebagai orang dewasa seharusnya kita sudah mengetahui apa pilihan seperti apa yang akan menghasilkan konsekuensi seperti apa. Semoga kedepannya saya dapat melakukannya dengan lebih baik lagi.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Nilai Tugas dan Nilai Ekspektasi Vygotsky

Nilai tugas merupakan komponen yang penting karena kompetensi saja tidak memadai untuk menjelaskan pemilihan jurusan atau bidang tertentu. Siswa mungkin kompeten di banyak bidang, tetapi tidak memilih terlibat karena bidang itu tidak memiliki nilai yang cukup bagi siswa. Ketika seseorang minat yang lebih besar daripada kemampuan yang sebenarnya dimiliki oleh orang tersebut, maka akan lebih besar kemungkinannya seseorang itu menghasilkan performance yang lebih baik daripada mereka yang memiliki kemampuan namun tidak berminat dalam bidang tersebut. Minat atau kemauan kita dalam melakukan sesuatu dipengaruhi oleh nilai positif yang akan kita dapatkan.

Nilai tugas menurut vygotsky memiliki empat komponen yaitu, nilai pencapaian, nilai intrinsik, nilai kemanfaatan dan biaya. Nilai pencapaian mengacu pada arti penting melakukan yang terbaik dalam bidang atau pelajaran tertentu. Dalam hal ini seseorang melakukan tugas agar mendapatkan hasil yang terbaik dengan melakukan yang terbaik pula tergantung seberapa penting pengerjaan tugas.

Nilai intrinsik mengacu pada kesenangan siswa dalam menjalankan tugas dengan baik. Seseorang yang mengandalkan nilai intrinsik terdalam mengerjakan tugas tertentu tergantung pada kesenangannya secara pribadi, tidak  terlalu memusingkan hasil namun lebih kepada menikmati setiap proses yang dijalani.

Nilai kemanfaatan mengacu pada kegunaan pelajaran tertentu. Ketika seseorang sangat mementingkan manfaat yang akan didapat dari pengerjaan tugas, maka dapat dikatakan bahwa nilai yang paling menonjol dalam dirinya adalah nilai kemanfaatan. Nilai kemanfaatan selalu dikaitkan dengan aplikasi langsung dari tugas dan pengetahuan dalam kehidupan nyata atau sehari-hari.

Biaya mengacu pada sejauh mana pemilihan dalam melakukan aktivitas akan membatasi kesempatan untuk berpartisipasi atau ikut dengan aktivitas lain. Dengan kata lain biaya mengarah pada pengorbanan yang harus dilakukan ketika melakukan sesuatu.

Penjelasan diatas berhubungan dengan nilai tugas. Sedangkan nilai ekspektasi mengacu pada keyakinan anak tentang sejauh mana mereka akan dapat melakukan dengan baik. Nilai ekspektasi berhubungan dengan nilai yang diprediksi yang akan didapatkan di masa depan.

Nilai Tugas dan Nilai Ekspektasi Vygotsky

Nilai tugas merupakan komponen yang penting karena kompetensi saja tidak memadai untuk menjelaskan pemilihan jurusan atau bidang tertentu. Siswa mungkin kompeten di banyak bidang, tetapi tidak memilih terlibat karena bidang itu tidak memiliki nilai yang cukup bagi siswa. Ketika seseorang minat yang lebih besar daripada kemampuan yang sebenarnya dimiliki oleh orang tersebut, maka akan lebih besar kemungkinannya seseorang itu menghasilkan performance yang lebih baik daripada mereka yang memiliki kemampuan namun tidak berminat dalam bidang tersebut. Minat atau kemauan kita dalam melakukan sesuatu dipengaruhi oleh nilai positif yang akan kita dapatkan.

Nilai tugas menurut vygotsky memiliki empat komponen yaitu, nilai pencapaian, nilai intrinsik, nilai kemanfaatan dan biaya. Nilai pencapaian mengacu pada arti penting melakukan yang terbaik dalam bidang atau pelajaran tertentu. Dalam hal ini seseorang melakukan tugas agar mendapatkan hasil yang terbaik dengan melakukan yang terbaik pula tergantung seberapa penting pengerjaan tugas.

Nilai intrinsik mengacu pada kesenangan siswa dalam menjalankan tugas dengan baik. Seseorang yang mengandalkan nilai intrinsik terdalam mengerjakan tugas tertentu tergantung pada kesenangannya secara pribadi, tidak  terlalu memusingkan hasil namun lebih kepada menikmati setiap proses yang dijalani.

Nilai kemanfaatan mengacu pada kegunaan pelajaran tertentu. Ketika seseorang sangat mementingkan manfaat yang akan didapat dari pengerjaan tugas, maka dapat dikatakan bahwa nilai yang paling menonjol dalam dirinya adalah nilai kemanfaatan. Nilai kemanfaatan selalu dikaitkan dengan aplikasi langsung dari tugas dan pengetahuan dalam kehidupan nyata atau sehari-hari.

Biaya mengacu pada sejauh mana pemilihan dalam melakukan aktivitas akan membatasi kesempatan untuk berpartisipasi atau ikut dengan aktivitas lain. Dengan kata lain biaya mengarah pada pengorbanan yang harus dilakukan ketika melakukan sesuatu.

Penjelasan diatas berhubungan dengan nilai tugas. Sedangkan nilai ekspektasi mengacu pada keyakinan anak tentang sejauh mana mereka akan dapat melakukan dengan baik. Nilai ekspektasi berhubungan dengan nilai yang diprediksi yang akan didapatkan di masa depan.
Peran Pengetahuan dan Kemauan Sadar Vygotsky

           Vygotsky mengidentifikasi dua fungsi psikologi luas yang penting bagi perkembangan fungsi mental yang lebih tinggi. Pengetahuan itu adalah pengetahuan sadar dan kontrol kemauan dari aktivitas mental seseorang. Ketika tidak terdaat aktivitas kognitif sadar, emelajar tidak dapat menguasai fungsi mental yang lebih tinggi. Seseorang tidak akan mampu mengorganisasikan atau mengarahkan perhatiannya, menganalis, mengaitkan satu konsep dengan konsep lain, dan sebagainya. Dua fungsi dasar ini muncul sejak usia sekolah namun saat itu belum sempurna. ketika teori dihubungkan dengan status sebagai mahasiswa, maka hasilnya adalah sebagai berikut. Mahasiswa tentunya sudah memiliki fungsi mental yang tinggi ini bahkan mungkin sudah sempurna. Kesempurnaan ini diperoleh dari proses perkembangan kognitif mahasiswa sendiri, pengalaman yang didapat dari lingkungan, serta proses belajar yang telah dijalani selama mengikuti pendidikan. Mengingat mahasiswa sudah tergolong dewasa, tentunya mahasiswa ketika akan memutuskan sesuatu yang menuntut pilihan akan melakukannya dengan kesadaran penuh. Karena mahasiswa sudah mengetahui makna dan konsekuensi yang akan diterima untuk setiap pilihan yang dibuat. Kesadaran ini membuat mahasiswa menciptakan pemikiran dan perilaku yang bertujuan untuk mengontrol kemauannya dalam melakukan sesuatu.

Selasa, 22 Oktober 2013



Vygotsky

Tujuan utama Vygotsky adalah mereformulasikan psikologi sebagai bagian dari ilmu sosial terpadu. Dia memadang bahwa pemahaman akan kecerdasan manusia adalah masalah paling penting bagi psikologi. 


Prinsip Perkembangan Psikologis

Tujuan Vygotsky adalah menciptakan psikologi yang secara teoritis dan metodologid sederajat dengan tugas meneliti karakteristik manusi yang unik.
Asumsi Dasar
Ada tiga bidang yang membentuk landasan analisis vygotsky terhadap perkembangan kapabilitas menta manusia. Bidang yang dimaksud antara lain:
a.       Hakikat kecerdasan manusia
Peneliti lainnya terutama peneliti behavioral subjek penelitian yang sering digunakan akan hewan dan menganggap bahwa hasil penelitian terhadap hewan tersebut akan sama dengan hasil penelitian terhadap manusi secara langsung. Vygotsky menentang hal ini dengan menyatakan bahwa hewan dan manusi tidak dapat disamakan karena tidakan hewan yang terstruktur tidak selalu merupakan tindakan intelektual. Berbeda dengan manusia yang memang berperilaku berdasarkan intelektualnya.
b.      Landasan Filosofis
Pandangan Vygotsky dipengaruhi oleh 3 filsuf. Yang pertama Spinoza yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk rasional dan secara bertahap menguasai pikirannya sendiri. Yang kedua adalah Hegel. Materi sebagai dasar eksistensi dianggap merupakan Sesuatu yang absolute dan tidak berubah. Sebaliknya hegel menyatakan bahwa materi selalu dipengaruhi oleh factor lain seperti proses, perubahan atau perkembangan yang terus terjadi. Tekhir adalah Carl Max yang menyatakan bahwa manusia mnciptakan kultur yang beragam dimana alat untuk memandang dunia sebagai objek dan subjek yang bertindak. Alat kerja adalah factor penting dalam mengubah sifat manusia
c.       Konsep “perangkat psikologis”
Terdapat masalah pandangan tentang alat sebagai instrument penelitian. Dalam hal ini vygotsky menyatakan bahwa alat yang dimaksud adalah tanda dan symbol. Alat psikologis ini melahirkan transformasi kesadaran manusia yang menjadi alat untuk mengarahkan pikiran dan mengubah proses berpikir manusia


MENCIPTAKAN NILAI FUNGSIONAL PERILAKU

Menurut teori kognitif-sosial, ketika seseorang memperhatikan kejadian di lingkungan maka orang tersebut akan serta merta memprediksikan penguatan yang mungkin didapatkan dan cenderung mengabaikan sesuatu yang menurutnya tidak menghasilkan penguatan (Bandura,1997, h.85). Bandura merekomendasikan agar pembelajaran diarahkan untuk menciptakan ekspektasi hasil positif. Harapan ini akan meningkatkan perhatian dan perilaku untuk melakukan tugas.
Kejadian-kejadian yang memprediksi penguatan mendapatkan nilai fungsional bagi peserta didik.
Contoh aplikasi dalam kuliah
Seseorang memiliki ekspektasi positif dalam rencana masa depan agar dapat menjadi tenaga pendidik yang baik setelah lulus kuliah dari fakultas Psikologi. Ekspektasi positif ini akan memunculkan hasil ekspektasi positif berupa perilaku yang dianggap dapat membantu mencapai rencana masa depan tersebut. Perilaku yang dapat dialakukan antara lain dengan mengambil mata kuliah pilihan yang berhubungan dengan pendidikan seperti, psikologi belajar, paedagogi, andragogi dll. Perilaku-perilaku ini merupakan hasil dimodeling yang dianggap dapat memberikan penguatan untuk mencapai tujuan. Baik itu modeling dari dosen, senior dll.
Kesimpulan dari teori ini adalah semakin besar ekspektasi positif yang ingin kita tuju maka akan semakin besar pula kemungkinan untuk memunculkan ekspektasi hasilpositif berupa perilaku yang mendukung ekapektas tersebut.   

Selasa, 15 Oktober 2013

TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF JEAN PIAGET

Prinsip Perkembangan Kognitif
Fokus teori Jean Piaget adalah menemukan karakteristik logika alamiah, yang terdiri dari proses penalaran yang dibangun oleh individu yang berkembang sesuai dengan fase perkembangan kognitif. tujuan lainnya adalah  menemukan transformasinya sari satu bentuk penalaran ke penalaran lainnya. transformasi ini tergantung pada empat faktor yaitu, lingkungan, kematangan, pengaruh sosial dan proses ekulibrasi (mempertahankan fungsi kecerdasan ketika melakukan transformasi besar).

Asumsi Dasar
Asumsi dasarnya adalah hakikat konstruksivis dari kecerdasan dan faktor-faktor esensial dalam perkambangan kognitif.
1. Sumber Filsafat : hakikat pengetahuan adalah mengetahui dan ia adalah sebuah proses yang diciptakan melalui aktivitas pemelajar. pengetahuan berasal dari pengalaman.
2. Suber biologi: hakikat kecerdasan manusia adalah bahwa kecerdasan manusia dan organisme berfungsi serupa dimana keduanya adalah sistem terorganisasi yang secara konstran berinteraksi dan beradabtasi dengan lingkungan.
3. Sumber Psikologi : metode investigasi yang tepat adalah dengan menggunakan observasi dan eksperimentasi.

Piaget menganggap pengetahuan itu selalu berkembang tidak statis


 

Senin, 07 Oktober 2013

Pengalaman Diskusi Online 

Problem Based Learning

Pada saat diskusi online kemarin saya tidak berproses secara maksimal. Pada diskusi pertama saya sudah stay di warnet sebelum waktu yang ditentukan, namun saya g mail saya tidak dapat memunculkan chat. Saya sudah mengusahakan sampai pukul 21.00 namun tetap saja tidak bisa. Di diskusi kedua saya juga sudah online, tapi lagi-lagi saya tidak bisa terhubung dengan teman-teman lainnya. Saya sudah berusaha dengan menggunakan alamat email saudara saya dan 2 orang teman saya. Namun tetap saja tidak bisa. Saya mencoba untuk yang terakhir kalinya, dan akhirnya bisa. Saya ikut diskusi hanya untuk waku yang sebentar. Untuk itu saat ini saya mencoba menuliskan apa yang saya pikirkan.
Dari diskusi teman-teman sebelumnya saya sangat setuju bahwa yang menjadi masalah adalah ketidakaktifan mahasiswa di dalam kelas. Hipotesis yang kelompokmunculkan antara lain adalah kurangnya reinforcement dan kurangnya rasa memaknai sesuatu dari mahasiswa. Menurut saya hipotesis lainnya berhubungan dengan katidakaktifan ini berhubungan dengan teori pengkondisian klasik di ruang kelas. Teori mengatakan reaksi emosional negative mungkin melekat pada beberapa situasi yang sama yang menyebabkan perilaku menghindar dan tidak memperhatikan. Hal ini mungkin dialami secara umum oleh mahasiswa. Ketika ada arahan untuk bertanya atau menjawab mahasiswa cenderung untuk pasif. Mungkin ini juga berhubungan dengan perasaan naluriah manusia yang dibawa sejak lahir seperti adanya rasa takut. Ketika kami mengikuti kelas lain mulai dari siswa pastinya proses yang kami alami juga hampir sama. Contohnya guru yang bertanya apakah ada pertanyaan atau guru yang meminta siswa untuk menjawab. Terkadang tidak semua guru dan dosen tidak marah ketika peserta didiknya bertanya atau menjawab dengan kurang tepat, ada beberapa yang mungkin membuat hal ini menjadi pengalaman buruk. Pengalaman buruk ini diasosiasikan oleh mahasiswa dalam setiap kondisi. Sehingga mungkin saja hal ini menjadi salah satu penyebab yang mengakibatkan ketidakaktifan mahasiswa. Ada perasaan cemas. Seperti pengalaman saya sendiri, terkadang kecemasan saya mengalahkan niat saya untuk menjawab atau bertanya. Jika memang hal ini yang menjadi salah satu factor penyebab, maka cara mengatasinya terlebih dahulu adalah dengan mengurangi kecemasan mahasiswa ketika akan memasuki kelas dengan relasi yang lebih baik lagi. Secara umum berdasarkan pengalaman saya , Dosen sudah berusaha dan menekankan agar tidak perlu takut dan cemas ketika akan menjawab dan bertanya. Karena semua adalah proses belajar, segala sesuatunya tidak harus benar. Sementara jika dilihat dari mahasiswa, cara yang mungkin dapat dilakukan adalah mahasiswa sendiri harus dapat mengkondisikan dirinya dengan situasi kelas yang baru. Mengurangi kecemasan dengan pola pikir yang lebih baru. Semoga ini menjadi bahan pemikiran baru bagi kita semua yang mengikuti kuliah Psikologi Belajar.
SEMANGAT...