Balance
sudahkah kita menjalami hidup dengan balance/seimbang?
Sangat mudah untuk mengatakannya. Namun lagi-lagi sulit untuk melakukannya. tapi sulit bukan berarti tidak bisa. segala sesuatunya menjadi hal yang mudah jika dilakukan dengan sepenuh hati. Seimbang antara studi, pekerjaan, kesehatan, bermain, hubungan dengan keluarga, hubungan dengan teman sosial, pacar, bahkan hubungan dengan Tuhan. Saya sendiri belum. apakah memang sangat sulit menyeimbangkan segala sesuatunya? mungkin tidak. kita hanya butuh usaha yang lebih dan menikmati apa yang sedang kita kerjakan. sekarang pertanyaannya adalah usaha seperti apa yang bisa kita lakukan? dan bagaimana cara menikmati segla sesuatunya?
menurut saya untuk melakukannya dapat kita mulai dengan hal-hal kecil dan sederhana seperti mengubah pola pikir kita apakah memang penting keseimbangan itu, jika memang penting lanjut dengan memotivasi diri sendiri untuk menuju keseimbangan itu, selanjutnya mulailah untuk merealisasikan motivsi tersebut kedalam aksi, aksi yang terus menerus dilakukan dapat menjadi sebuah kebiasaan. ketika sudah menjadi sebuah kebiasaan kita dapat lebih menikmati apa yang kita kerjakan karena hal itu sudah menjadi kebiasaan untuk kita. Terbiasa untuk membuat segala nya menjadi seimbang.
Selasa, 26 Februari 2013
Senin, 25 Februari 2013
PAEDAGOGI
Paedagogy, dari Yunani Kuno παιδαγωγέω (paidagōgeō; dari παίς país: anak dan άγω ági: memimpin; secara literal, "memimpin anak”) (Wikipedia) “pedagogics”, kata jadian pedagogy + ics, ilmu atau seni (art) mengajar (Merriam-Webster, 2000)
Pedagogi adalah ilmu atau seni dalam menjadi seorang guru. Istilah ini merujuk pada strategi pembelajaran atau gaya pembelajaran.
Pedagogi juga kadang-kadang merujuk pada penggunaan yang tepat dari strategi mengajar. Sehubungan dengan strategi mengajar itu, filosofi mengajar diterapkan dan dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan dan pengalamannya, situasi pribadi, lingkungan, serta tujuan pembelajaran yang dirumuskan oleh peserta didik dan guru.
Paedagogi memiliki pengertian yang hampir sama dengan mengajar. Mengajar merupakan ilmu dan seni mentransformasikan bahan ajar kepada peserta didik pada situasi dan dengan menggunakan medan tertentu. Seni dalam mengajar terlihat ketika terjadi pembelajaran. Seni mengajar yang dimaksud adalah kerja sama antara siswa dengan proses belajarnya dengan kemampuan guru memandu yang melibatkan intuisi, improvisasi, dan ekspresi tergantung pada kreativitas, penilaian baik dan wawasan tinggi. Sedangkan ilmu dalam hal ini menekankan pada aspek ilmiah yang sistematis. sehingga pembalajaran itu adalah ilmu + seni yang harmonis.
Berdasarkan asal katanya, paedagogi berhubungan dengan seni mengajar dan memimpin anak-anak. Dalam hal ini pengajar bertugas sebagai pemandu anak-anak untuk memehami aspek ilmiah yang sistematis dengan menggunakan seni dalam proses memandunya. Pemandu yang paling akrab dengan kita adalah Guru. ada beberapa karakteristik guru yang baik dan cerdas. Saya akan melihat apakah karakteristik guru ini terdapat pada Guru saya ketika saya berada di kelas 6 SD.
Karakteristik Guru yang Baik dan Cerdas
|
Penilaian
|
Mengatahui
nama-nama siswa dan memanggil dengan nama
|
V
|
Menerima
salam dari rekan siswanya secara menyenangkan
|
V
|
Memainkan
peran yang berbeda pada suasana dan kepentingan yang berbeda
|
V
|
Mengingat
sesuatu yang sebelumnya dikhawatirkan oleh siswa sebelum keluhan mereka
muncul
|
|
Menolak
tindakan sarkastik ketika melucu atau berkelakar kepada siswanya
|
V
|
Tidak
pernah membiarkan sucapan siswa dan rekannya yang mengarah pada penghinaan
|
V
|
Teliti
mengikuti diktum yang secara universal cenderung disepakati oleh semua orang
|
|
Menceritakan
kepada siswa dengan mempertimbangkan dimensi waktu dan situasi
|
V
|
Tidak
pernah terlambat kelas atau memotong waktu belajar untuk kepentingan pribadi
|
|
Memberikan
respon terhadap keluhan siswa secara cepat dan akurat
|
V
|
Bekerja
keras dan cerdas, semua dokumen tertata dan tertulis rapi
|
V
|
Lebih
mengutamakan formalitas di ruang kelas dibandingkan dengan formalitas
pemikiran yang tersirat dalam mata pelajaran yang sedang dipelajari
|
V
|
Menunjukkan
dan menandakan kejujuran intelektual yang tinggi dan teliti
|
V
|
Berdiri
diatas pemikiran yang jernih dan adil
|
V
|
Mengetahui
dan memahami perbedaan karakteristik siswa pada masing-masing kelas
|
V
|
Rabu, 27 Juni 2012
BEHAVIORAL
DISORDER PADA ANAK-ANAK
Perilaku menyimpang dalam istilah psikologi sering disebut dengan Disruptive
Behavior, dan karena perilakunya negative dan tidak
normal maka termasuk dalam gangguan perilaku, disebut juga dengan Disruptive
Behavior Disorders. Disruptive
behavior ini merupakan pola-pola perilaku yang negatif yang ditampakkan anak dalam kelompoknya maupun untuk merespon segala sesuatu disekelilingnya. Respon
yang sering munculya itu kemarahan, ketidaksabaran, penolakan dan sebagainya. Ada 3 macam perilaku
yang termasuk dalam Disruptive Behavior Disorder yaitu
:
A. Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD)
ADHD adalah cacat dimana anak-anak menunjukkan
satu atau lebih dari karakteristik ini
selama periode waktu. Karaktersitik
tersebut adalah : (1) Kelalaian,
(2) Hiperaktivitas, dan (3) Impulsif. Anak-anak yang lalai mengalami kesulitan seperti fokus pada satu
hal saja yang mungkin saja mereka bosan dengan tugas setelah
hanya beberapa menit, atau bahkan detik. Anak-anak yang menunjukkan
tingkat hiperaktif tinggi mempunyai tingkat aktivitas fisik yang
tinggi. Anak-anak yang impulsif
mengalami kesulitan mengendalikan
reaksi mereka, mereka tidak melakukan
pekerjaan dengan berpikir lebih baik sebelum bertindak.
Tergantung pada karakteristik bahwa anak-anak dengan tampilan ADHD, mereka dapat didiagnosis sebagai (1) ADHD dengan didominasi kekurangan perhatian, (2) ADHD
dengan didominasi hiperaktif
/ impulsif, atau
(3) ADHD dengan kedua-duanya
yaitu kurangnya
perhatian dan hiperaktif /
impulsif.
Gejala utama pada anak yang mengalami ADHD adalah kurangnya atau tidak adanya konsentrasi pada diri anak, ketika anak bermain, belajar atau segala sesuatu yang dilakukan tidak bertahan lama. Perhatiannya mudah teralih, diikuti dengan perilakunya yang banyak, banyak gerak dan tidak bisa diam. Selain itu, anak biasanya juga terlihat sangat aktif dalam berbicara,
dan perilakunya sering mengganggu orang lain.
B. Conduct Disorder
Conduct disorder ini merupakan perilaku yang melatarbelakangi seorang anak memiliki perilaku kekerasan, kenakalan atau kriminalitas. Perilaku yang ditampilkan dalam conduct disorder merupakan perilaku yang tidak menghargai hak-hak orang lain, melanggar aturan, norma-norma yang berlaku atau pun hukum. Conduct disorder biasanya muncul sebelum masa pubertas, diperkirakan 9% terjadi
pada laki-laki dan 2% pada anak-anak perempuan. Conduct disorder ini meliputi juga perilaku bermusuhan atau menyakiti orang lain.
C. Oppositional Defiant Disorder
Oppositional defiant disorder
biasanya terjadi pada anak-anak usia 8-12 tahun, dan lebih banyak terjadi pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan. Pada anak-anak dengan gangguan tersebut memiliki pandangan maupun perilaku negative dan menyimpang, biasanya disertai dengan komplain-komplain terhadap orang tua, sikap permusuhan dan kemampuan berargumentasi tentang apa yang dilakukannya. Reaksi-reaksi
yang ditampilkan pada saat masa remaja adalah reaksi negative terhadap kemandirian. Kemungkinan besar anak-anak atau remaja dengan gangguan tersebut akan mengalami juga gangguan suasana perasaan(mood disorder)
ataupun gangguan kepribadian pasif-agresif.Sabtu, 09 Juni 2012
Simulasi Pedagogi dan Andragogi
Disini kami mensimulasikan Pedagogi dan Andragogi dengan
Peran Ibu yang membangunkan kedua anaknya.
Pedagogi
Mama : “Bibi,cica banguuuuuuun!!! Sudah jam berapa ini!
Sekolah sekolah!!”
Bibi dan cica : *terbangun* “aduh sudah jam berapa ini ma”
Mama : “Cepat mandi,pakaian,sarapan!!”
Bibi : *mandi*
Mama : “Ini pakaian dan sepatumu. *sambil menyisir rambut
cica* Bibi cepat mandinya biar kalian sarapan!!”
Cica dan Bibi : *sarapan yang masih disuapin setelah itu
menyalami tangan mamanya dan pergi ke sekolah*
Andragogi
Alarm berbunyi
Bibi dan cica : *terbangun* “sudah pagi,ayo kita sekolah!”
Bibi dan cica : *langsung mandi dan pakaian*
Mama : “Ini sarapan kalian”
Bibi dan cica : *sarapan dan setelah itu menyalami tangan
mamannya dan pergi ke sekolah*
Pedagogi disini bahwa anaknya masih memerlukan bantuan
ibunya. Dimana-mana masih bertanya dan ibunya yang memberitahu sedangkan
Andragogi disini bahwa anaknya sudah mandiri. Mereka
sudah dewasa dan sudah tahu apa kewajiban mereka tanpa harus dibangunkan lagi, diberitahukan dan dibantu dalam segala hal.
Terima kasih^^
Poster Mini Proyek
Nama Kelompok
Yap Rima Oktavya Sinaga ( 11-042 )
Rosliana Karolina Manalu ( 11-052 )
Christyn Elisabeth Siagian ( 11-094 )
Nama Kelompok
Yap Rima Oktavya Sinaga ( 11-042 )
Rosliana Karolina Manalu ( 11-052 )
Christyn Elisabeth Siagian ( 11-094 )
Mini Proyek Psikologi
Pendidikan 2011/2012
Nama Kelompok
Topik : Dinamika
Kreativitas dalam Ruang Lingkup Pendidikan
Judul : Pandangan Mahasiswa Psikologi USU terhadap Kreativitas Pengajar Fakultas Psikologi USU dalam Ruang Lingkup Pendidikan
Pendahuluan
Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menemukan
hubungan-hubungan baru dan membuat kombinasi-kombinasi baru yang mencerminkan kelancaran, keluwesan dan orisinalitas dalam berpikir
sehingga dapat menciptakan sesuatu yang
baru. Kreativitas merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam
menciptakan suasana belajar yang efektif.
Kurikulum di Perguruan Tinggi saat ini menuntut keaktifan
dari mahasiswa dalam proses pembelajaran, namun hal ini tidak
diimbangi oleh peran dosen dalam menciptakan keaktifan itu.
Pada tingkat Perguruan Tinggi, proses KBM ini sangat variatif
dilakukan oleh para pendidik demi menciptakan kenyamanan pada saat KBM
berlangsung baik di kelas maupun di luar kelas. Pendidik dalam hal ini adalah
dosen yang mempunyai tanggung jawab secara moral terhadap kemajuan intelektual
mahasiswanya. Untuk itu, setiap dosen mempunyai ciri khas tersendiri dalam
mengajar. Berbicara masalah ciri khas maka disinilah ada kreatifitas.
Tujuan
Penelitian
Dalam proyek mini ini kami ingin mengetahui pandangan
mahasiswa terhadap kreativitas pengajaran dosen di fakultas Psikologi
Universitas Sumatera Utara.
Landasan Teori
Kreativitas
adalah kemampuan berpikir tentang sesuatu dengan cara baru dan tak biasa dan
menghasilkan solusi yang unik atas suatu problem. J.P.Guilford (1967)
membedakan antara pemikiran konvergen, yang menghasilkan suatu jawaban benar
dan merupakan karakteristik dari jenis pemikiran yang dibutuhkan pada tes
kecerdasan konvensional, dan pemikiran divergen yang menghasilkan banyak
jawaban untuk satu pertanyaan dan merupakan karakteristik dari kreativitas
(Michael, 1999).
Pengertian kreativitas
menurut beberapa ahli :
· Utami Munandar menjelaskan bahwa kreativitas adalah kemampuan
seseorang untuk menciptakan produk-priduk baru, meskipun tidak semua
komponennya baru.
· Edward de Bono menyatakan bahwa kreativitas berasal dari bahasa
inggris yaitu “create” yang artinya mengadakan sesuatu yang sebelumnya belum
ada. Dan sesuatu tersebut harus memiliki nilai-nilai tersendiri, maka
kreativitas dapat diartikan sebagai menciptakan sesuatu yang benarbenar baru
yang mengandung nilai-nilai.
Apabila beberapa pendapat
ahli tersebut disimpulkan maka akan diperoleh pokok-pokok mengenai pengertian
kreativitas tersebut, yaitu:
• Kreativitas adalah
kemampuan seseorang untuk menciptakan produk-produk baru.
• Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk berpikir divergen, meskipun tetap ada kaitannya dengan kemampuan berpikir konvergen.
• Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk berpikir divergen, meskipun tetap ada kaitannya dengan kemampuan berpikir konvergen.
Tujuh jenis kreativitas
1. Verbal / Linguistis:
kemampuan memanipulasi kata secara lisan atau tertulis.
2. Matematis / Logis:
kemampuan memanipulasi sistem nomor dan konsep logis.
3. Spasial: kemampuan
melihat dan memanipulasi pola dan desain.
4. Musikal: kemampuan
mengerti dan memanipulasi konsep musik, seperti nada, irama, dan keselarasan.
5. Kinestis-tubuh:
kemampuan memanfaatkan tubuh dan gerakan, seperti dalam olaharaga atau tari.
6. Intrapersonal: kemampuan
memahami perasaan diri sendiri, gemar merenung serta berfilsafat.
7. Interpersonal: kemampuan
memahami orang lain, pikiran, serta perasaan.
Kita biasanya dominan dalam
satu atau dua jenis kecerdasan. Namun kita memiliki kombinasi unik yang bisa
dipelajari.
Ciri-ciri orang menurut beberapa ahli adalah
sebagai berikut:
Menurut Rogers (dalam Utamu
Munandar, 2004) ada tiga kondisi pribadi kreatif;
• Keterbukaan terhadap pengalaman
• Keterbukaan terhadap pengalaman
• Kemampuan untuk menilai situasi dengan patokan
pribadi seseorang (internal locus of evaluation)
• Kemampuan untuk bereksperimen, untuk bermain
dengan konsep-konsep.
Para ahli seperti Torrance dan Dembo (979), Utami Munandar (2004), Conny Semiawan (1984), Cohen (1976), Siegelman (1973) mengemukakan beberapa ciri-ciri orang kreatif, diantaranya;
Para ahli seperti Torrance dan Dembo (979), Utami Munandar (2004), Conny Semiawan (1984), Cohen (1976), Siegelman (1973) mengemukakan beberapa ciri-ciri orang kreatif, diantaranya;
• Suka humor, tidak kaku
dan tidak tegang dalam bekerja.
• Suka pada pekerjaan yang
menantang
• Cukup kuat memusatkan perhatian
• Suka mengemukakan ide-ide baru dan bersifat
imajinatif
• Lebih sensitif terhadap keadaan orang lain
• Tidak banyak terikat pada kelompoknya
• Mampu memunculkan ide-ide yang aneh
• Terbuka terhadap ide/penemuan baru
•Fleksibel/tidak kaku
• Memiliki konsep diri
positif
Menurut David Campbel
(dalam Mangunhardjono, 1986) guru/dosen harusnya memiliki kebiasaan berikut
untuk mengembangkan kreativitas anak, yaitu:
• Bersifat mengasuh/membimbing
• Bersifat mengasuh/membimbing
• Suka bersifat informal
• Memiliki persiapan mengajar yang matang
• Tidak terikat pada buku pelajaran saja
• Terbuka terhadap pendapat yang berlawanan
• Suka memberikan penguatan (reinforcement) bila
ada siswa yang kreatif
Pengajaran dan Kreativitas
Salah satu tujuan penting pengajaran adalah membantu murid menjadi lebih
kreatif. Strategi yang bisa mengilhami kreativitas murid antara lain :
· Mengembangkan Brainstorming
Brainstorming adalah teknik
dimana orang-orang dalam sebuah kelompok didorong untuk menghasilkan ide
kreatif, saling bertukar gagasan, dan mengatakan apa saja yang ada di pikiran
mereka yang tampaknya relevan dengan isu tertentu (Rickards, 1999; Sternberg
& Lubart, 1995). Partisipan biasanya diminta menahan diri dengan tidak
mengkrtitik gagasan orang lain sampai akhir sesi brainstorming.Orang-orang
kreatif tidak takut gagal atau keliru, mereka siap menang dan kalah.
· Menyediakan Lingkungan yang memicu Kreativitas.
Ada situasi kelas yang
dapat membantu dan menghambat kreativitas. Guru yang mendorong kreativitas
sering kali mengandalkan pada rasa ingin tahu anak. Guru yang mendorong
kreativitas dapat mengajak murid berjalan-jalan ke lokasi dimana kreativitas
dihargai. Howard Gardner (1993) percaya bahwa sains, penemuan, dan museum
anak menawarkan banyak kesempatan untuk memicu kreativitas.
· Jangan Terlalu Mengatur Murid
Teresa Amabile (1993)
mengatakan bahwa menyuruh murid untuk melakukan sesuatu secara persis akan
membuat mereka merasa bahwa orisinilitas adalah sebuah kesalahan dan eksplorasi
adalah kesia-siaan. Apabila murid dalam melakukan tugas terus-menerus diawasi
dan menuntut murid mendapat nilai bagus dan sempurna maka akan memudarkan
semanagat kreativitas mereka.
· Mendorong Motivasi Internal
Motivasi murid kreatif
adalah kepuasan karena berhasil menciptakan suatu karya. Kompetensi untuk
mendapatkan hadiah dan evaluasi formal sering kali melemahkan motivasi dan
kreativitas (Amabile & Hennessey) namun bukan berarti tidak memberikan
hadiah sama sekali.
· Mendorong Pemikiran yang Fleksibel dan Main-main.
Pemikir kreatif bersikap
fleksibel dan bermain-main dengan problem yang menimbulkan paradoks.
Kreativitas membutuhkan usaha, dan usaha itu akan lancar jika dilakukan dengan
santai seperti adanya humor yang dapat melancarkan roda kreativitas ( Goleman,
Kaufman, & Ray, 1993). Bermain-main membantu murid menghilangkan tekanan
yang dapat menghambat gagasannya.
· Memperkenalkan Murid Dengan orang-orang Kreatif.
Dekat dengan orang-orang yang kreatif dapat
membangkitkan kreativitas seseorang juga yang bisa kita dapatkan dari
pengalaman dan keahlian kreatif mereka.
Alat dan
Bahan
1. Alat Tulis
2. Laptop
3. Modem
4. Kamera
5. Kuesioner
6. Printer
Analisis
Data
Kelompok menggunakan kuesioner sebagai sumber data dari
partisipan.Kuesioner ada yang melalui survey online yang disediakan bagi
teman-teman seangkatan, dan kuesioner dalam bentuk print out disediakan bagi
kakak senior. Adapun kuesioner tersebut terdiri dari 20 pertanyaan disamping
pertanyaan mengenai identitas. Setiap pertanyaan berisi pernyataan dengan 3
pilihan jawaban antara tidak pernah (TP), kadang-kadang (KD), dan sering (SR).
Teknik analisis yang kami gunakan adalah melihat hasil survey dari semua data
yang disimpulkan dalam bentuk persentasi.
Objek
Penelitian
45 orang Mahasiswa Psikologi yang dipilih secara random dan
berasal dari angkatan yang berbeda. Random yang dimaksud adalah kami menanyakan
kesediaan partisipan yang kami temui untuk mengisi kuesioner.
Time Table
KEGIATAN
|
APRIL
Minggu
|
MEI
Minggu
|
JUNI
Minggu
|
|||||||
III
|
IV
|
V
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
I
|
II
|
|
Penentuan Topik dan Judul
|
||||||||||
Penentuan Metode & Pelaksanaan
|
||||||||||
Pendahuluan
|
||||||||||
Landasan Teori
|
||||||||||
Pembuatan Kuesioner
|
||||||||||
Pembagian Kuesioner
|
||||||||||
Analisa Data
|
||||||||||
Membuat Poster
|
||||||||||
Posting di Blog
|
||||||||||
Anggaran Biaya
1. Alat
Tulis
: Rp. 10.000,-
2. Biaya Print
dan
Fotocopy
: RP. 10.000,-
Jumlah
: Rp. 20.000,-
Kontribusi anggota kelompok : Rp. 10.000,-
Kuesioner
No.
|
PERNYATAAN
|
TP
|
KD
|
SR
|
1.
|
Dosen selalu mencari ide
baru dan unik
|
|||
2.
|
Dosen memandang sesuatu
dari satu sudut pandang saja.
|
|||
3.
|
Dosen membiarkan kami
untuk bertukar gagasan (melakukan brainstorming).
|
|||
4.
|
Dosen menyediakan
lingkungan yang memicu kreativitas kami.
|
|||
5.
|
Dosen terlalu mengatur
mahasiswa.
|
|||
6.
|
Dosen terus-menerus
mengawasi kami ketika melakukan tugas.
|
|||
7.
|
Dosen menuntut kami untuk
mendapat nilai bagus dan melakukan sesuatu secara sempurna.
|
|||
8.
|
Saya termotivasi secara
internal karena pengajaran dosen.
|
|||
9.
|
Dosen memberikan beberapa
alternatif solusi dalam memecahkan masalah.
|
|||
10.
|
Dosen kami bersikap
fleksibel dalam menghadapi hal baru.
|
|||
11.
|
Tidak ada humor dan
lelucon pada proses pembelajaran.
|
|||
12.
|
Dosen memperkenalkan kami
dengan orang-orang yang kreatif.
|
|||
13.
|
Materi yang disampaikan
dosen mudah dicermati mahasiswa.
|
|||
14.
|
Metode pengajaran yang
dilakukan monoton.
|
|||
15.
|
Dosen up date dengan
teknologi.
|
|||
16.
|
Dosen menggunakan
teknologi dalam proses pembelajaran bukan hanya melibatkan buku pelajaran.
|
|||
17.
|
Dosen memiliki persiapan
yang matang sebelum mengajar.
|
|||
18.
|
Dosen memberi saya
inspirasi baru.
|
|||
19.
|
Dosen bersikap cuek
dengan lingkungan/situasi kelas.
|
|||
20.
|
Dosen tidak memberi
penguatan (reinforcement) pada siswa yang kreatif.
|
Setelah
dilakukan penelitian terhadap 45 orang partisipan, maka kami mendapatkan hasil
dalam bentuk persentasi sebagai berikut
1.
Dosen selalu mencari ide baru dan unik
|
2.
Dosen memandang sesuatu dari satu sudut pandang saja
|
3.
Dosen membiarkan kami untuk bertukar pikiran
|
4.
Dosen menyediakan lingkungan yang memicu kreativitas kami.
|
5.
Dosen terlalu mengatur mahasiswa.
|
6.
Dosen terus-menerus mengawasi kami ketika melakukan tugas.
|
7.
Dosen menuntut kami untuk mendapat nilai bagus dan melakukan sesuatu secara
sempurna.
|
8.
Saya termotivasi secara internal karena pengajaran dosen.
|
9.
Dosen memberikan beberapa alternatif solusi dalam memecahkan masalah.
|
10.
Dosen bersikap fleksibel dalam menghadapi hal baru.
|
11.
Tidak ada humor dan lelucon pada proses pembelajaran.
|
12. Dosen
memperkenalkan kami dengan orang-orang yang kreatif.
|
13. Kami
sulit memusatkan perhatian pada proses pengajaran dosen.
|
14.
Metode pengajaran yang dilakukan monoton.
|
15. Dosen
up to date dengan teknologi.
|
16. Dosen
menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran bukan hanya melibatkan buku
pelajaran.
|
17. Dosen memiliki
persiapan yang matang sebelum mengajar.
|
18. Dosen memberi saya
inspirasi baru.
|
19. Dosen bersikap cuek
dengan lingkungan/situasi kelas .
|
20. Dosen tidak memberi
penghargaan pada siswa yang kreatif.
|
KESIMPULAN
Setelah melakukan survey
penelitian terhadap mahasiswa Fakultas Psikologi USU angkatan 2007, 2009, 2010,
dan 2011 dengan topik Dinamika Kreativitas dalam Ruang Lingkup Pendidikan,
kelompok kami menyimpulkan bahwa kreativitas dosen Psikologi Universitas
Sumatera Utara pada umumnya dapat dikatakan cukup kreatif dari segi personal
maupun cara dan tekniknya dalam mengajar. Hal ini dibuktikan dari hasil
penilaian survey yang menjelaskan bahwa para dosen Psikologi cukup fleksibel
(48.89% ) , dimana mereka mengembangkan brainstorming dalam sistem
perkuliahan (71.11% ), cukup mengemukakan ide baru dan unik
(86.67% ), menyediakan lingkungan yang memicu kreativitas (57.78% ),
mendorong motivasi (57.78% ) dan dapat memberi inspirasi (64.44% )
memiliki persiapan yang matang sebelum mengajar (80.00%), cukup peduli dengan
situasi kelas, memberi penghargaan pada siswa yang kreatif (46.67% )
memberikan beberapa alternatif solusi dalam memecahkan masalah (55.56% ),
up to date dengan teknologi (51.11% ), memiliki selera humor
(60.00% ) dan cukup memperkenalkan mahasiswa dengan orang yang kreatif
(57.78% ).
SARAN
Ada baiknya para
pengajar/dosen dapat memberikan pengajaran yang kreatif sehingga dapat
meningkatkan kefektivitasan proses pembelajaran.
TESTIMONIAL
Yap Rima O.Sinaga (
11-094 )
Pertama kali ditugaskan
untuk membuat proyek mini, saya sedikit bingung. Saya tidak pernah melakukan
penelitian sebelumnya, saya juga belum mengerti maksud dan tujuannya. Tapi
berkat informasi yang telah disampaikan dosen melalui postingan di blog, saya
sangat terbantu. Kami sulit dalam menentukan topik yang akan kami bahas, kami
mengganti topik dan judul sampai beberapa kali. Setelah berdiskusi dengan teman
sekelompok lainnya, akhirnya kami pun sepakat membahas topik kreativitas ini.
Saya sempat cemas apabila kami tidak dapat mengerjakannya dengan tuntas dan
baik. Berkat bantuan dari senior dan kerja sama yang baik diantara kami, kami
pun dapat menyelesaikannya. Mini proyek ini menambah pengalaman saya yang
berhubungan dengan penelitian dalam konteks yang sederhana, tapi ini akan
sangat membantu saya dalam penelitian-penelitian berikutnya. Terima kasih
Rosliana Karolina
Manalu (11-052)
Pembuatan proyek mini
ini merupakan pengalaman baru bagi saya. Sebelumnya , saya belum pernah
mengadakan penelitian seperti ini. Pada awalnya saya juga tidak begitu mengerti
tentang apa yang harus dikerjakan dalam penyelesaian mini proyek ini. Kami
berulang kali mengganti topik untuk mini proyek ini karena kurangnya pemahaman
dalam pengerjaannya. Namun, berkat saran dan bantuan dari teman-teman serta
senior, kami dapat memutuskan topik yang akan kami kerjakan dalam mini proyek
ini. Banyak sekali pembelajaran baru yang saya dapat ketika mengerjakan mini proyek
ini seperti, membuat dan menyebarkan kuesioner, mengolah data lewat survey
online, dan lain-lain. Tugas ini sangat menarik dan menurut saya akan sangat
membantu dalam proses perkuliahan selanjutnya terutama dalam hal mengadakan
penelitian. Terima kasih
Christyn Elisabeth
Siagian ( 11-094 )
Penugasan seperti ini
merupakan hal baru bagi saya secara pribadi, dimana ini kali pertama saya
membuat mini proyek, dimana kami harus melakukan penelitian untuk mendapatkan
hasilnya. Awalnya sempat bingung juga tetapi berkat pengarahan dari dosen
Pengampu Mata Kuliah Psikologi Pendidikan, bantuan kakak senior dan juga
teman-teman, kami bisa mengatasinya. Pengetahuan seperti ini sungguh sangat
berharga bagi saya terlebih lagi saya sudah mendapatkan pengetahuan untuk
melakukan penelitian ini sejak awal , yang nantinya akan masih sangat
berguna bagi saya dalam menempuh kuliah di Psikologi USU ini. Terima Kasih
DAFTAR PUSTAKA
Santock, JohnW, 2004. Psikologi
Pendidikan. Jakarta : Kencana.
Sumber:http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2253528-pengertian-kreativitas/#ixzz1w9s3a3As
Sumber:http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2253528-pengertian-kreativitas/#ixzz1w9s3a3As
Langganan:
Postingan (Atom)



